Lantas, bagaimana perkembangan kasus virus corona saat ini? Apa maksud dari "global health emergency" yang ditetapkan WHO? Berapa banyaknya jumlah korban? Bagaimana respons dari negara-negara dunia terkait kondisi ini?
Halodoc
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih sering muncul mengenai virus
corona. Berikut ulasannya yang dihimpun dari berbagai sumber.
1. Ketetapan WHO dari Jenewa
Pertemuan
kedua Emergency Committee (WHO) yang diadakan oleh Direktur Jenderal
WHO di bawah naungan International Health Regulations (IHR) mengenai
wabah virus coronavirus 2019 di Republik Rakyat Tiongkok, menemui babak
baru.
Emergency
Committee yang terdiri dari 15 anggota dan 6 penasihat sepakat
menetapkan kasus virus corona jenis 2019-nCoV (novel coronavirus)
sebagai "Public Health Emergency of International Concern (PHEIC)".
Ketetapan ini dibuat pada Kamis, 30 Januari 2020, dari 13:30 hingga
18:35 waktu Jenewa (CEST), Swiss.
Ketetapan
PHEIC ini diambil sebagai dukungan dan tindakan yang diambil Tiongkok
sebagai negara di garis depan yang memerangi virus corona. Bukan hanya
itu, PHEIC juga diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan di negara
lain yang mungkin memerlukan dukungan tambahan dalam melawan serangan
virus misterius ini.
2. Korban Meningkat Tajam dalam 10 Hari
Mau tahu seberapa cepatnya virus corona
menyerang masyarakat Tiongkok? Hingga 20 Januari terdapat 291 kasus, 22
Januari 446 kasus, 26 Januari 2.021 kasus, 28 Januari 4.524 kasus, dan
sampai 30 Januari tercatat 7,711 kasus. Artinya, dari 20 Januari hingga
30 Januari, kasusnya meningkat hampir 27 kali lipat.
3. Menyebar Luas ke Banyak Negara
Perwakilan
dari Kementerian Kesehatan Republik Rakyat Tiongkok mengatakan, sekitar
7.711 warganya positif terjangkit virus corona, dari 12.617 kasus yang
dicurigai. Dari angka-angka tersebut, 1370 berada dalam kondisi parah
dan 170 orang meninggal dunia. Di samping itu, sekitar 124 orang telah
pulih dan dipulangkan dari rumah sakit. Angka-angka ini didapat dari
catatan WHO dalam Pertemuan kedua Emergency Committee.
Bagaimana
serbuan virus corona ke negara lain? Menurut data dari WHO (30 Januari
2020), virus misterius ini sudah menyebar ke 18 negara. Sekitar 83
korban dinyatakan positif terjangkit novel coronavirus.
Pada Jumat, 31 Januari 2020, Halodoc menghimpun data terbaru yang dirilis oleh The GISAID - Global Initiative on Sharing All Influenza Data. Tercatat sebaran virus corona sudah mengetuk pintu 21 negara. Sekitar 112 orang positif mengidap novel coronavirus.
4. Virus Corona Mengalahkan Kecepatan SARS
Kilas
balik ke belakang, SARS yang muncul pada November 2002 di Tiongkok,
menyebar ke beberapa negara lain. Mulai dari Hongkong, Vietnam,
Singapura, Indonesia, Malaysia, Eropa (Inggris, Italia, Swedia, dan
Swiss), Rusia, hingga Amerika Serikat.
Epidemi
SARS yang berakhir hingga Juli 2003 itu menjangkiti 8.098 orang di
berbagai negara. Bagaimana dengan jumlah korbannya? Setidaknya 774 harus
kehilangan nyawa akibat penyakit infeksi saluran pernapasan berat
tersebut.
Bagaimana bila SARS disandingkan dengan virus corona yang kini tengah mewabah? Data dari The GISAID - 2019-nCoV Global Cases
(by Johns Hopkins CSSE) mengatakan, saat ini sekitar 8.236 orang di
berbagai negara terjangkit virus ini. Artinya, virus korona jenis
2019-nCoV menyebar lebih cepat ketimbang SARS.
SARS
membutuhkan waktu sekitar 9 bulan untuk menyerang 8.000-an orang.
Sementara itu, 2019-nCoV hanya membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk
menyerang 8.000-an orang. Sangat, mengkhawatirkan bukan?
5. Menutup Perbatasan hingga Batalkan Penerbangan
Virus
misterius ini menimbulkan beragam respons dari berbagai negara.
Contohnya Rusia, pemerintahnya menutup perbatasan timur laut dengan
Tiongkok. Sementara itu, Israel melarang semua penerbangan dari
Tiongkok.
Lebih
dari 6.000 wisatawan juga tertahan di atas kapal pesiar di pelabuhan
Italia. Kondisi ini diambil setelah dua penumpang Tiongkok diisolasi
dengan dugaan terjangkit virus corona.
Antisipasi
serangan virus ini juga diambil berbagai perusahaan raksasa. Facebook,
HSBC, Goldman Sachs dan LG Electronics, merupakan perusahaan yang
membatasi perjalanan ke dan dari Tiongkok. Sedangkan Google, Ikea,
Starbucks, dan Tesla menutup toko atau berhenti beroperasional di
Tiongkok.
Ancaman
mematikan virus corona juga berimbas pada perusahaan maskapai
penerbangan. United Airlines dan British Airways, mengatakan membatalkan
penerbangan ke Tiongkok karena permintaan turun tajam. Ada pula Air
Canada yang mengambil langkah untuk menangguhkan semua penerbangan ke
sejumlah kota besar di Tingkok.
6. Global Health Emergency Lainnya
Jauh sebelum coronavirus mewabah, terdapat beberapa penyakit lainnya yang juga masuk ke dalam ketetapan "global health emergency" WHO. Contohnya, swine flu atau flu babi pada 2009. Virus H1N1 ini menewaskan lebih dari 200.000 penduduk dunia.
Ada pula
kasus polio pada 2014, Zika pada 2016, dan Ebola pada 2014 serta 2019.
Pada Agustus 2014 hingga Maret 2016, setidaknya 30.000 orang terinfeksi
virus ebola. Sekitar 11.000 orang meninggal di Afrika Barat karenanya.
7. Siapkan Anggaran dan Skenario
Menteri
Kesehatan Terawan, Agus Putranto, menyatakan Kementerian Kesehatan telah
menyiapkan anggaran untuk masyarakat yang positif terjangkit novel
coronavirus. Mengenai besaran anggaran, Menkes akan memastikan kembali
nominal yang disiapkan. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi
dan kesiapsiagaan Kementerian Kesehatan terhadap potensi masalah
kesehatan.
Lalu,
bagaimana dengan warga negara Indonesia (WNI) di Wuhan? Mengenai WNI di
Wuhan, Menkes menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah medis
untuk mereka apabila telah sampai di Indonesia. Menurut Menkes, seluruh
WNI (243 orang) di Wuhan saat ini dalam kondisi sehat, belum ada yang
terkonfirmasi positif 2019-nCoV.
Direktur
Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes juga mengatakan,
pihaknya bersama Kementerian Luar Negeri dan pihak terkait, telah
menyiapkan sejumlah skenario untuk mengevakuasi WNI yang ada di Wuhan,
Tiongkok.

0 komentar:
Posting Komentar