Pertanyaannya,
seberapa ampuh penggunaan masker untuk mencegah COVID-19? Menteri
Kesehatan (Menkes) RI, Terawan Putranto sudah mengatakan dengan tegas,
penggunaan masker untuk menangkal virus corona hanya berlaku bagi orang
sakit. Singkat kata, orang sehat tidak perlu menggunakan masker. Lantas,
benarkah orang sehat tidak dianjurkan untuk menggunakan masker?
Tegas Penggunaan Masker, Bukan untuk Orang Sehat
Penjelasan
Menkes senada dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO menjelaskan,
penggunaan masker hanya direkomendasikan untuk orang sakit, bukannya
orang sehat. Menkes Terawan juga mengingatkan, agar orang sehat tidak
melakukan kontak dengan yang sakit. Sedangkan orang yang sakit dihimbau
untuk membatasi kegiatannya.
Kepanikan
virus corona terkait masker tidak hanya terjadi di Indonesia saja.
Kondisi ini juga dialami masyarakat Amerika Serikat. Menurut Centers for
Disease Control and Prevention (CDC), masyarakat AS sebenarnya tidak
membutuhkan masker. Mereka membelinya karena rasa takut.
CDC
mengatakan, orang sehat di AS tidak boleh memakai masker. Alasannya,
masker tidak melindungi mereka dari coronavirus jenis terbaru. Menurut
US Surgeon General (ahli bedah), masker sebenarnya dapat meningkatkan
risiko infeksi jika tidak dipakai dengan benar.
Bagaimana
dengan pekerja medis yang merawat pengidap COVID-19? Nah, mereka yang
tepat untuk menggunakan masker karena berisiko tinggi tertular virus
ini. Lalu, kapan waktu yang tepat menggunakan masker? Ini tipsnya dari
WHO.
-
Jika kondisi kamu sehat, kamu hanya perlu memakai masker jika merawat orang yang diduga terinfeksi COVID-19.
-
Kenakan masker jika kamu batuk atau bersin.
-
Masker efektif bila dibarengi dengan keadaan tangan yang bersih. Cucilah tangan menggunakan alkohol atau sabun dan air.
-
Jika kamu mengenakan masker, maka kamu harus tahu cara menggunakannya dan membuangnya dengan benar.
Kesimpulannya,
baik WHO dan CDC tidak merekomendasikan orang sehat untuk mengenakan
masker untuk melindungi diri dari penyakit pernapasan, termasuk
COVID-19.
Hal
sebaliknya berlaku, masker harus digunakan oleh orang-orang sakit atau
mereka yang menunjukkan gejala COVID-19. Tujuannya jelas, untuk
melindungi orang lain dari infeksi virus misterius ini.
Pastikan
sakit yang kamu alami bukan karena virus corona. Jika kamu mencurigai
diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit
membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter.
Kamu bisa bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dengan begitu, kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit.
Bukan Penyakit Airborne
Penggunaan
masker dalam kasus virus corona Wuhan atau COVID-19 nyatanya diiringi
banyak teori tidak berdasar. Ada yang bilang virus corona bisa menyebar
lewat udara (airborne disease) sehingga menimbulkan kepanikan.
Contohnya, seperti yang diutarakan wakil kepala Biro Urusan Sipil
Shanghai, Tiongkok.
Ia
mengatakan, kemungkinan virus corona bisa menular melalui udara.
Bagaimana faktanya? Klaim ini menimbulkan kontroversi. Menurut ahli dari
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, tidak ada bukti
ilmiah yang mendasarinya.
Bantahan
juga datang dari pakar virus di Australian Infectious Diseases Research
Centre. Sang pakar berkata, pernyataan tersebut hanya klaim liar tanpa
bukti pendukung.
Masih belum percaya? Simaklah laporan yang dibuat WHO dalam Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
WHO jelas mengatakan, penyebaran melalui udara belum dilaporkan untuk
COVID-19. Penyebaran melalui udara tidak diyakini sebagai pendorong
utama transmisi berdasarkan bukti yang tersedia.
Selain
WHO, pakar di CDC AS juga sependapat. Virus corona Wuhan menular melalui
tetesan pernapasan dari orang yang terinfeksi. Tetesan atau percikan
ini bisa keluar melalui batuk atau bersin.
Masih
menurut CDC, penularan virus ini juga dapat melalui benda yang telah
terkontaminasi virus corona. Prosesnya terjadi ketika seseorang
menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi virus, dan menyentuh
mulut, hidung atau mata. Namun, penularan lewat benda terkontaminasi
tidak dianggap sebagai penularan utama.
Ahli lain
dari National Institutes of Health - MedlinePlus mengatakan virus
COVID-19 diperkirakan menyebar ke orang-orang dalam kontak dekat
(sekitar 1,8 meter). Ketika pengidap COVID-19 batuk atau bersin, tetesan
yang terinfeksi bisa menyemprot ke udara.
Nah, kamu
dapat tertular penyakit ini kalau menghirup partikel-partikel tersebut.
Singkat kata, COVID-19 menyebar lewat droplet, alias percikan batuk
atau bersin dari pengidapnya. Droplet ini bisa masuk ke tubuh melalui
mata, hidung atau mulut.
Kesimpulannya,
belum ditemukan bukti kalau virus corona Wuhan bisa menular di udara
bebas atau airborne disease. Virus misterius ini ditemukan para lendir
atau droplet. Mau tahu contoh penyakit airborne disease? Sebut saja
tuberculosis dan legionellosis.

0 komentar:
Posting Komentar