Virus
corona muncul dengan gejala seperti penyakit flu pada umumnya. Namun,
baru-baru ini kemunculan lesi di jari kaki juga bisa menjadi gejala COVID-19. Benarkah demikian? Berikut ulasan selengkapnya!
Lesi di Jari Kaki Jadi Tanda COVID-19
Lesi
di jari kaki yang diduga adalah gejala baru infeksi COVID-19, dan
kebanyakan dialami oleh anak-anak atau remaja. Pada beberapa pengidap
yang didominasi oleh anak-anak dan remaja tersebut melaporkan adanya
lesi dermatologis kecil yang tumbuh di kaki mereka. Lesi di jari kaki
yang menjadi tanda COVID-19 tersebut muncul sebelum diikuti dengan
gejala lain.
Lesi
kulit sendiri merupakan jaringan pada kulit yang tumbuh secara tidak
terkendali, baik di bawah permukaan, atau di atas permukaan kulit.
Menurut laporan berbagai media, lesi di jari kaki ditemukan di beberapa
negara, termasuk Italia, Perancis, dan Spanyol. Begitu pun yang
dikatakan oleh Dewan Umum Perguruan Tinggi Podiatrist, Spanyol.
Lesi yang muncul berwarna keunguan, mirip dengan cacar air atau chilblains,
yaitu peradangan yang terjadi di pembuluh darah kecil di sekitar jempol
kaki. Kondisi tersebut dapat sembuh dengan sendirinya tanpa
meninggalkan bekas di kulit. Lesi sendiri bersifat jinak, berdiameter
5-15 milimeter, yang disusul dengan sensasi rasa terbakar pada kaki
selama lebih dari seminggu.
Selain Lesi di Jari Kaki, Ini Gejala Lainnya
Virus
corona bisa menimbulkan beragam gejala yang berbeda pada masing-masing
pengidapnya. Gejala yang muncul akan tergantung pada daya tahan tubuh
pengidap, serta seberapa serius infeksi yang terjadi. Jika infeksi
termasuk dalam intensitas yang ringan, gejala meliputi pilek, sakit
kepala, sakit tenggorokan, batuk, demam, serta tidak enak badan.
Dalam kondisi yang parah, infeksi dapat berubah menjadi penyakit bronkitis, yaitu infeksi
virus pada saluran pernapasan utama, serta pneumonia, yang dikenal
dengan paru-paru basah. Saat keduanya terjadi, gejala dapat meliputi:
-
Demam tinggi.
-
Batuk berdahak.
-
Sesak napas.
-
Nyeri dada.
Gejala
yang muncul, serta infeksi yang dialami akan semakin parah pada
kelompok orang dengan penyakit jantung, penyakit paru-paru, serta
seseorang dengan sistem imunitas tubuh yang lemah, seperti anak-anak,
bayi, dan lansia.
Untuk
mencegah penyebarannya, segera lakukan isolasi mandiri di rumah saat
mengalami serangkaian gejalanya, terutama jika dalam dua minggu terakhir
kamu mengunjungi daerah zona merah, atau memiliki kontak dengan
pengidap virus corona.
Jika
kamu memiliki kemungkinan telah terpapar tapi tidak mengalami gejala
yang telah disebutkan, kamu tidak perlu memeriksakan diri ke rumah
sakit. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kamu hanya perlu
melakukan isolasi mandiri di rumah dalam waktu 14 hari.
Jika kondisi kamu memerlukan pemeriksaan langsung dengan dokter, kamu dapat langsung membuat jadwal konsultasi dengan aplikasi Halodoc di rumah sakit rumah sakit terdekat! Jangan lupa untuk menggunakan masker dan sarung tangan saat bepergian ke luar rumah.

0 komentar:
Posting Komentar